Mengenal Wali Allah ( Waliyullah )

Allah telah menyebutkan ciri para wali-Nya dalam firman-Nya :
 
أَلا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ (٦٢
الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ (٦٣
Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang beriman dan mereka selalu bertakwa.” (QS. Yunus: 62-63)

Untuk menjadi wali - wali Allaah sebenarnya cukup mudah yakni menjalankan perintah Allaah sebagaimana terdapat dalam surah Al Baqarah : 177

لَيْسَ الْبِرَّ أَنْ تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَالْمَلائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ وَآتَى الْمَالَ عَلَى حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَالسَّائِلِينَ وَفِي الرِّقَابِ وَأَقَامَ الصَّلاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَالْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَاهَدُوا وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ الْبَأْسِ أُولَئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ

"Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa" Al Baqarah : 177

Ciri-Ciri Wali Allah

Beriman

Keimanan yang yang dimilikinya tidak dicampuri oleh berbagai bentuk kesyirikan. Keimanan tersebut tidak hanya sekedar pengakuan tetapi keimanan yang mengantarkan kepada bertakwa. Landasan keimanan yang pertama adalah Dua kalimat syahadat. Maka orang yang tidak mengucapkan dua kalimat syahadat atau melakukan hal-hal yang membatalkan kalimat tauhid tersebut adalah bukan wali Allah. Seperti menjadikan wali sebagai perantara dalam beribadah kepada Allah, atau menganggap bahwa hukum selain Islam adalah sama atau lebih baik dari hukum Islam. Atau berpendapat semua agama adalah benar. Atau berkeyakinan bahwa kenabian dan kerasulan tetap ada sampai hari kiamat bahwa Muhammad bukan penutup segala rasul dan nabi.

Bertaqwa

Ia melakukan apa yang diperintah Allah dan menjauhi apa yang dilarang Allah. Sebagaimana yang disebutkan dalam hadits ini yaitu melakukan hal-hal yang diwajibkan agama, ditambah lagi dengan amalan-amalan sunnah. Maka oleh sebab itu kalau ada orang yang mengaku sebagai wali, tapi ia meninggalkan beramal kepada Allah maka ia termasuk pada jenis wali yang kedua yaitu wali setan. Atau melakukan ibadah-ibadah yang tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah dan para sahabatnya. Baik dalam bentuk salat maupun zikir, dll.

Wali Allah, adalah istilah yang tidak asing di kalangan kaum muslimin. Namun demikian, banyak kaum muslimin yang tidak memahami masalah ini secara tepat dari sudut pandang syari’ah. Padahal tidak jarang terjadi penyimpangan dalam aqidah yang bersumber dari rancunya pemahaman istilah tersebut pada diri seseorang. Siapakah Wali Allah ?

Menurut bahasa: Wali (ولي) berarti pembela dan pencinta. "Wali adalah kedudukan tinggi dalam agama yang hanya dicapai oleh orang yang telah menegakkan agama, baik lahir maupun batin. "Yang benar wali maksudnya wali Allah, adalah mereka yang memiliki sifat sebagaimana yang telah Allah sifati, yaitu ; Beriman dan bertakwa, sebagaimana firman-Nya, " Yaitu orang-orang beriman dan mereka selalu bertakwa.”

Istilah wali dapat dipahami dari dua sisi yang saling berkaitan  :

Dari sisi seorang hamba. Seseorang dikatakan sebagai wali Allah (Waliyullah) jika dia adalah orang beriman kepada-Nya, mencintai dan membela ajaran-Nya dan menjalankan syariat-syariat-Nya. Dari sisi Allah Ta’ala. Allah adalah Wali bagi orang beriman . Maka itu berarti Dia mencintai dan menolong hamba-Nya yang beriman dengan sebenar-benarnya. Hal ini dijelaskan dalam sebuah hadits Rasullah saw dalam riwayat Bukhari :

« إِنَّ اللهَ تَعَالَى قَالَ : مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ، وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُهُ عَلَيْهِ، وَلاَ يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ، وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا، وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا، وَلَئِنْ سَأَلَنِي لأُعْطِيَنَّهُ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِي لأُعِيْذَنَّهُ » [رواه البخاري]

“Sesungguhya Allah Ta’ala berfirman: Siapa yang memusuhi wali-Ku, maka Aku telah mengumumkan perang terhadapnya. Tidak ada ibadah seorang hamba yang lebih Aku cintai kecuali ibadah yang telah Aku wajibkan kepadanya. Jika hamba-Ku selalu mendekatkan diri kepada-Ku dengan perkara-perkara sunah setelah melaksanakan yang fardhu maka Aku akan mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, maka Aku akan menjaga pendengarannya yang dia gunakan untuk mendengar, menjaga penglihatannya yang dia gunakan untuk melihat, menjaga tangannya yang digunakannya untuk memukul dan menjaga kakinya yang digunakan untuk berjalan. Jika dia meminta kepada-Ku, niscaya Aku akan berikan dan jika dia minta perlindungan dari-Ku niscaya Aku akan lindungi.” (HR Bukhari)

Berdasarkan pemahamaman yang bersumber Al-Quran dan Sunnah, kita dapat menyimpulkan bahwa seseorang siapapun dia dikatakan sebagai wali Allah manakala dia telah mewujudkan keimanan dan ke-taqwaannya kepada Allah Ta’ala dengan sebenarnya, dan tingkat kewaliannya berbanding dengan tingkat keimanan dan ketakwaannya. Wali Allah yang paling tinggi adalah pada para Nabi dan Rasul. Maka setiap Nabi dan Rasul pastilah dia wali Allah, tapi tidak setiap wali Allah dia seorang Nabi Rasul. Maka, kelirulah orang yang berpendapat bahwa wali Allah lebih tinggi sedikit tingkatannya di atas para Nabi dan dibawah tingkatan para Rasul.

Beberapa Pemahaman Keliru Tentang Wali Allah dan Penjelasan Atasnya , Adanya keyakinan bahwa status wali adalah berdasarkan penunjukkan secara khusus dari Allah kepada seseorang sebagaimana halnya para Nabi dan Rasul. Bahkan ada yang memahami bahwa di daerah-daerah tertentu telah ditunjuk wali-wali tertentu sebagai “Wakil Allah”.

Tidak ada ayat atau hadits yang menunjukkan adanya penetapan khusus dari Allah tentang status wali pada orang-orang tertentu (si fulan dan si fulan), sebagaimana halnya para Nabi dan Rasul. Yang Allah khabarkan hanyalah sifat-sifat yang ada pada wali-Nya. Jika orang tersebut beriman kepada Allah dengan benar, men-jalankan perintah dan menjauhkan larangan-Nya serta membela ajaran-Nya, maka dia adalah wali Allah, meskipun tidak ada orang yang memberinya gelar wali. Sebaliknya, jika dia pelaku maksiat, bid’ah dan kesyirikan, maka dia bukanlah wali Allah, meskipun orang-orang menjulukinya sebagai wali.

Adanya pemahaman bahwa wali Allah harus memiliki kemampuan luar biasa.

Adapun perkara kejadian luar biasa atau yang disebut karomah, hal tersebut bukan syarat bagi seseorang untuk dikatakan wali Allah, meskipun tidak mustahil jika hal itu terjadi. Maka dapat disimpulkan bahwa adanya karomah, jika benar hal itu terjadi dan benar bahwa itu karomah, menunjukkan kewalian seseorang, sedangkan kewalian seseorang tidak harus ditunjukkan dengan adanya karomah. Tapi cukup dengan keimanan dan ketakwaannya kepada Allah Ta’ala sesuai tingkatannya.

Sekali lagi, Wali Allah tidak identik dengan kejadian luar biasa, dan kejadian luar biasa tidak identik menunjukkan kewalian seseorang. Adanya pemahaman bahwa para wali adalah makhluk yang mengetahui perkara gaib dan dapat menentukan nasib seseorang. Sehingga dengan keyakinan tersebut, banyak yang mendatangi kuburannya jika dia telah meninggal dan memohon sesuatu kepadanya.

Maka sekalipun dia dijuluki masyarakat sebagai wali, tapi ajaran Islam yang dia sampaikan harus ditimbang sesuai ketentuan Allah dan Rasul-Nya. Jika sesuai, maka harus kita ambil dan amalkan. Jika tidak, apalagi yang di dalamnya ada unsur dan keyakinan syirik, maka harus kita buang jauh-jauh dari kehidupan agama.

Sikap tersebut tidak akan membuat hidup kita sengsara. Karena selain Allah, tidak ada yang dapat menentukan nasib kita, kalaupun benar terjadi musibah, hal itu bukan semata - mata karena wali tersebut dapat menentukan nasib kita, tapi semata-mata dari Allah sebagai bentuk ujian kepada kita.

Wallahu A’lam.

1 komentar:

Abu Rizall Akbar said...

alhamdulillah ilmu yang sangat bermanfaat
silahkan kunjungi blog saya untuk berbagi ilmu
http://aburizal-akbar.blogspot.com/
terimakasih

Post a Comment