Hanya Angin Malam Yang Menemani

Hari menuju malam, Dari balik jendela gubuk bambu tempatku bernaung sementara ini,
Seolah aku menyaksikan sosok-sosok yang bergerak jauh di bawah sana.
Sementara lampu-lampu jalan mulai menyala,
bayang-bayang hujan sejak sore tadi, memantulkan ribuan ilusi dalam pandangan mataku.

Harapan-harapan yang telah terpantul oleh waktu dan telah berlalu.
Siapakah yang dapat menahannya?
Kulit keriput dan putih sudah warna rambut siapakah yang akan mengembalikannya
Terpantul kelemahan itu dari kaca seakan mengejek keperkasaan masa muda.

Keperkasaan untuk apakah?
Dan hati yang sepi menjalin benang-benang rindu jauh di dalam hati yang merintih.
Siapakah yang dapat menyatakan kepadaku,
Karena apakah segala bencana yang terjadi dalam hidup ini?

Nasib? Takdir? KehendakNya? Ah bukan, kawanku.

Jangan mencari kambing hitam.
Jangan menyalahkan sosok-sosok tak jelas.
Jauh di dalam lubuk hati, kita tahu, bahwa awal dan akhir hidup kita hanya berkubang pada keserakahan. Keserakahan kita terhadap hidup, keserakahan kita untuk menguasai dan menaklukkan dunia.

Demi kesenangan dan kebanggaan kita.
Suatu kebanggaan yang semu. dan samasekali tak berarti.
Dunia terus bergerak. waktu terus beranjak dan kita, takut ditinggalkan,
Ketika berusaha untuk meraih semua mimpi-mimpi dan harapan kita.

Ingin menikmati, ingin mereguk segala kesenangan dan kebahagiaan dunia.
Menghancurkan segala apa yang ada di depan kita
Demi kejayaan kita. Bukankah begitu?
Jujurlah pada diri sendiri dan kita akan mendapatkan jawaban yang jujur pula.

Ketika semua telah berlalu dan hanya tinggal masa lalu
Kita kan sadar ........
Hanya angin malam yang menemani

Wallahu A'lam

0 komentar:

Post a Comment